Month: November 2007

Business Contract Drafting

Posted on

“It is important to note, however, that not every agreement is a contract. Therefore, all contracts are agreement although not all agreements are contract”

 

(Benny S Tabalujan, “Singapore Business Law”)

 

Setelah keikutsertaan saya pada Workshop “Business Contract Drafting” selama dua hari (21-22 Nov-2007) yang diselenggarakan oleh Harian Kontan dengan Workshop Leader Ricardo Simanjuntak, SH, LL.M, ANZIP, CIP. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan untuk memahami pentingnya mempersiapkan kontrak dengan baik.

 

Untuk membuat kontrak yang baik, ada beberapa poin yang harus dipahami bagi setiap perusahaan yang kerap bersentuhan dengan kontrak dalam menjalankan bisnisnya. Perjanjian atau kontrak yang sering digunakan dalam praktek seperti, Kontrak Jual Beli, Kontrak Sewa Menyewa, Perjanjian Kerja, Memorandum of understanding (MoU) Letter of Intent dan lain-lain mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

 

Seperti kutipan Benny S Tabalujan diatas yang menyebutkan bahwa tidak setiap perjanjian merupakan sebuah kontrak dan setiap kontrak merupakan perjanjian. Sebuah perjanjian atau kontrak adalah sesuatu yang tidak mempunyai bentuk baku, artinya para pihak yang ingin mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian atau kontrak dapat membuat sebuah perjanjian atau kontrak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Namun ada hal-hal yang membatasi para pihak dalam membuat perjanjian atau kontrak tersebut, yaitu hukum yang berlaku secara umum dimana mereka memilih pilihan hukum pada kontrak atau perjanjian tersebut.

 

Perjanjian atau kontrak berdasarkan dalam hukum positif Indonesia, adalah suatu perikatan antara subjek hukum yang diatur secara umum dalam KUH Perdata (KUH pdt). Yang menyebutkan bahwa subjek hukum dapat membuat undang-undang ataupun menciptakan hukum yang berlaku bagi mereka yang membuatnya.

 

Karena itu lahirlah perjanjian atau kontrak dari dua atau lebih subjek hukum. Dalam setiap perjanjian yang lahir tersebut tidak serta merta menimbulkan akibat hukum. Ada perjanjian yang tidak berakibat hukum, perjanjian yang menimbulkan akibat hukum adalah yang lazim disebut dengan kontrak.

 Perjanjian dan Kontrak 

Dalam prakteknya pemahaman terhadap perjanjian-perjanjian yang berasal dari sistem hukum Common Law seperti Memorandum of Understanding (MoU), Letter of Intent (LoI) dan Letter of Comfort (LoC) digunakan seperti kontrak. Padahal MoU, LoI dan LoC di Negara asalnya digunakan oleh pelaku bisnis dengan maksud mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian yang tidak berakibat hukum melainkan pengikatan moral.

 

Dalam KUH pdt jika judul perjanjian atau kontrak berbeda dengan isinya, maka isi perjanjian yang akan diakui di depan hukum. Jadi, misalnya para pihak menggunakan MoU tetapi isinya menimbulkan akibat hukum, maka apabila terjadi sengketa timbulah akibat hukum seperti akibat hukum pada kontrak yang berlaku bagi para pihak.

 

Dengan belum adanya persamaan pemahaman yang setara diantara pelaku bisnis terhadap nama dari sebuah perjanjian, maka potensi terjadinya sengketa akan semakin besar. Oleh karena itu pembuatan perjanjian atau kontrak yang baik menjadi sangat penting demi tercapainya suatu tujuan perusahaan dengan baik.

 Aspek Hukum 

Kegiatan perusahaan yang didahului dengan sebuah perjanjian atau kontrak didasari dengan perjanjian untuk mendapatkan untung dan lebih untung bagi para pihak. Maksudnya, para pihak mengikatkan diri pada suatu perjanjian atau kontrak bisnis dengan maksud sama-sama mencari keuntungan. Tetapi dalam prakteknya apa yang disepakati dalam perjanjian kerap tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan oleh para pihak, akhirnya kontrak tersebut menjadi perjanjian untung – rugi (sengketa).

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sebuah perjanjian atau kontrak berakhir menjadi sengketa dan merugikan salah satu pihak. Penggunaan terminologi merupakan faktor yang paling banyak menyebabkan sebuah perjanjian atau kontrak menjadi sengketa. Selanjutnya ketika terjadi sengketa, para pihak akan dihadapkan dengan beban-beban baru, seperti biaya-biaya penyelesaian sengketa, potensi kehilangan hak-hak yang telah diperjanjikan dan waktu yang panjang dalam menyelesaikan sebuah sengketa.

 

Perjanjian atau kontrak yang baik adalah kontrak yang memperhatikan perlindungan hak, menghindari atau meminimalisasi potensi masalah dari penggunaan terminologi dan meminimalkan risiko biaya dalam hal sengketa tidak dapat dihindarkan. Dalam hal ini aspek hukum merupakan faktor yang sangat penting dalam hal pembuatan perjanjian atau kontrak. Perjanjian atau kontrak yang dibuat adalah hukum yang bersifat khusus (Lex Specialis Derogat lex Generalis) bagi para pihak yang bersepakat. Namun ketika adanya sesuatu yang tidak diatur dalam perjanjian tersebut maka akan mengacu pada KUH pdt sebagai hukum umumnya.

 

KUH pdt memberikan ketentuan pada perjanjian atau kontrak mana yang dapat dibatalkan dan batal demi hukum. Perjanjian atau kontrak dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat subjektif, yaitu kesepakatan dan kecakapan para pihak. Sementara perjanjian atau kontrak batal demi hukum apabila tidak memenuhi syarat objektif, yaitu objeknya jelas dan kausa yang halal.

 

Kesimpulan Persiapan yang baik terhadap pembuatan kontrak atau perjanjian dalam menjalanakan kegiatan pada suatu perusahaan adalah hal yang mutlak. Dibandingkan dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila suatu perjanjian atau kontrak menjadi penting setelah terjadinya sengketa.   Damy

Advertisements

Juli & Jeni

Posted on

Kerasnya Ibukota jakarta bukan cerita baru bagi warga jakarta. Tak terkecuali bagi mereka para pendatang, walaupun sudah mendengar cerita kekejaman Jakarta mereka tetap hayoo ke Ibukota tercinta ini.

 Yah… warga jakarta mana sih yang gak pernah melihat pengemis membawa anak kecil yang umurnya belum sampai tiga tahun, dibawa seharian merasakan panasnya terik matahari sampai dinginnya malam di jalanan buat mengemis. Itupun konon katanya anak tersebut, anak sewaan (pengemis profesi), apapun itu tetap aja anaknya jadi korban…ya gak!!

Sepenggal cerita pengemis diatas hanyalah salah satu dampak negatif dari faktor X yang telah terjadi di Negara ini. Belum lagi lemahnya kemampuan ekonomi orang-orang yang terjebak dalam fatamorgana kota Jakarta, yang akhirnya mau pulang kampung malu, truss cari jalan pintas dengan alasan untuk bertahan hidup. Akhirnya munculah prostitusi, kejahatan dengan kekerasan, pengemis, dll.

Kenapa diatas gue bilang faktor X, soalnya terlalu banyak faktor yang telah membuat semuanya jadi “begini”. Ciye… asik gak bahasa gue. Ah sebenarnya gue mau nulis apa ya, agak-agak gak nyambung ya sama judulnya  🙂 hehe…. tenang saudara-saudara walau agak gak nyambung gue tetep nulis kok (keukeuh)

Juli & Jeni sepintas bisa dibilang korban akan kejamnya jakarta. Tapi itu sepintas aja, makanya jangan suka liat orang sepintas-pintas. Juli yang ngakunya umurnya 22 tahun, adalah pengamen bis kota, waktu itu gue ketemu sama mereka detik menunjukan hampir masuk jam sepuluh malam WIT (waktu Ibukota Tercinta). Malam itu ternyata Ibukota masih memberi harapan bagi Juli & Jeni.

Bis jurusan cawang-grogol (Rp.2000) itu ternyata menjadi bis favorit mereka mencari rejeki. Jadi waktu itu gue beru pulang dari slipi, ketemu teman lama dari Banda Aceh. Itung-itung nostalgia sama Banda Aceh, sambil nanya oleh-oleh khas Aceh 🙂 !! pulang dari slipi gue naik bis mau ke arah cawang. Nah di tengah perjalanan masuklah duo JJ (masksudnya Juli & Jeni) tadi (setelah pengamen-pengamen yang udah duluan nyanyiin lagu gak jelas, Kamu ketahuan…… Pacaran lagi…… gitu2 lah).

Ketika Duo JJ masuk bis dan menyanyikan lagu pertama, ada hal yang menarik perhatian gue (mungkin penumpang lainnya juga). Pertama mereka, Juli atau Jeni mempunyai suara yang lumayan bagus, yah banyak juga sih pengamen yang suaranya lumayan, tapi mereka terdengar kompak dengan menyanyi secara bergantian.

Sempat terbersik dipikiran gue, mungkin mereka anak-anak fakultas seni yang lagi latihan atau tes mental gitu….  Dipertengahan lagu pertama yang judulnya gue lupa itu, Jeni berjongkok dan mengambil uang logaman yang ada di lantai bis, uang itu gue udah liat dari tadi, kalo gak salah tuh logam cuma gocapan (Rp.50), gila kaget juga gue masa segitunya sih sampe ngambil gocapan.

Setelah itu gue baru yakin kayaknya mereka bener-bener cari nafkah. Pas maen lagu kedua gue mikir, gue pengen banget kenal sama mereka. Yang gue bingung masa mereka nyanyi sebagus itu cuma bisa ngamen aja!!! yah emang sih gue juga gak bisa bantu apa-apa, cuma kondisi ini kenapa bisa terjadi, mereka yang gak bisa apa-apa bisa masuk industri. Tapi yang punya bakat malah ngamen di jalan!!!

Pada saat mereka selesai nyanyi dan nadahin topi buat ngumpulin uang dari para penumpang. Gue berniat mau nanya ke mereka, ada nomor yang bisa dihubungi gak? tapi gue agak ragu juga, nanti dikira pahlawan kesiangan lagi. Ternyata mereka turun di Cawang juga, jadi pas turun gue langsung tegor aja si Juli.

Nah baru deh gue kenal an sama mereka disitu. Setelah ngobrol panjang lebar ternyata Jeni (20 th) itu istrinya Juli. Bukan sulap bukan sihir mereka suami istri dengan anak satu….huh! sambil ngerokok bareng kita ngobrol soal macem-macem. Menurut pengakuan mereka, udah banyak orang yang nawarin maen di cafe, tapi gak pernah jodoh karena mereka gak punya nomor untuk dihubungi. Dilihat gelagatnya kayaknya Juli lebih enjoy ngamen dijalan ketimbang maen di cafe. “enakan kaya gini sih bang, saya udah dari kecil ngamen di Bis. Lagian kalo maen di cafe gitu, harus disiplin kan” kata Juli ke gue. Beda lagi sama si Jeni, walaupun Jeni lebih milih depet kerjaan yang lebih baik dengan menyanyi, tapi dia tetep ngikut apa yang terbaik menurut sang “arjunanya” itu. Dengan kalimat yang bijak dia bilang ke gue “yah… mungkin Juli belum siap aja kali”.

Ada sesuatu yang gak bisa gue mengerti dari kejiwaaan yang mereka tunjukin ke gue. Sampai sekarang gue masih gak ngerti, gak tau juga apa mungkin cuma luarnya aja. Mereka terlihat menikmati hidup mereka dengan apa adanya. Masih teringat di bayangan gue ketika mereka ngobrol santai dengan senyam-senyum kayak gak ada beban.

Gue sih gak janjiin apa-apa sama mereka 🙂 ya orang gue juga gak punya chanel ke dunia musik. Tapi gue bilang sama mereka pingin kenal aja siapa tau ada yang bisa dibantu. Mudah-mudahan aja dengan perkenalan gue sama Duo JJ bisa merubah gue berpandangan terhadorang lain. Dan buat Duo JJ menambah semangat dan yakin kalo mereka punya bakat di musik.

Salutttt!! buat Juli & Jeni, Jakarta memang kejam tapi kalo siap bukan berarti harus takut.

D4my

How “boleh juga”

Posted on Updated on

411431256l.jpg

Apa yang terasa kemarin ternyata hanya kegundahan sesaat. seetelah semuanya berjalan seiring waktu bisa bernafas dengan tenang juga. Sebenarnya gak tau juga, sekarang apa udah siap menghadapi masalah karena udah ada solusi atau malah lupa karena ada kesibukan lain 🙂 Sekedar mau mengulang tulisan gue kemarin, kalo dipikir-pikir pertanyaan “How” adalah pertanyaan yang optimistis (ci…yee..) iya dong, dibandingkan kalo gue nanya “Why” kesannya nanti protes lagi.

Jadi tulisan “HOW” adalah bentuk upaya dari pencarian solusi…hehehe!!! bukan pertanyaan yang berpotensi lari dari masalah…iya gak?

Bay de wey, kayaknya lama-lama gue jadi tertarik neh sama blog-blogan itung buat latihan nulis lagi!! jiwa wartawan gue biar muncul lagi…. 🙂

Sip deh kalo gitu, tulisan berikutnya akan muncul yang lebih baik lagi (semoga)

see you…..

how……..?

Posted on Updated on

how…..?

bagaimana….? atau gimana..?

gimana coba…..?

ayo bagaimana….?

mau gimana?

akhir-akhir ini sering muncul tuh kata2 dalam kehidupan gue…… gimana (tuh kan muncul lagi) enggak, masalah hidup datengnya lagi kompakan. tau apa pada janjian kali ya!!!! kalo cerita sama orang, pasti orang juga cukup sama masalahnya sendiri. kalo gue paksain cerita ya, paling cuma lepasin cerita doang.

yah….emang sih masalah itu cepet atau lambat pasti akan dateng, kata orang bijak yang sulit itu bukan apa “masalahnya” tapi gimana cara menyikapi masalahnya….itu kata orang bijak (tau kalo si bijak lagi dapet masalah). Gila….. ancur….. ini mungkin setingkat lebih rumit dari maslah yang biasa gue hadapin selama ini. mungkin karena ngaruh sama kehidupan gue yang juga setingkat berubah, jadi pingin kuliah lagi yang dipikirin cuma “gimana” caranya dapet nilai bagus, lulus dengan cepat, cari uang tambahan buat bulanan yang agak boros…… dan seputaran ngatur hal yang seneng2 “gimana” caranya biar gak bentrok…hehehe

gue ini mantan wartawan, tapi semenjak gue berhenti jadi “kuli tinta” karena beneran jadi kuli…. (hehe nggak deng) gue gak pernah nulis lagi…. tau gak bakat apa males. Jadi ini untuk Pertama kalinya lagi gue nulis lagi…..(mau jadi apa gue). Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, Mas-mas, mba dan ade-ade juga, “Gimana” ya?

sang mantan wartawan  
Damy