Month: February 2010

Koin Cinta Bilqis

Posted on Updated on

Pondok Gede – Beberapa minggu terakhir kita mendengar berita tentang anak bernama Bilqis yang menderita penyakit “atresia bilier” yaitu penyakit yang menggangu fungsi hati si Bilqis. Terakhir berita yang saya baca di http://www.antara.co.id/berita/1265806529/berat-badan-bilqis-menurun Bilqis mengalami penurunan berat badan 0,1 kg, setelah sebelumnya berhasil naik 1 Kg. Berat badan Bilqis tersebut mempengaruhi rencana operasi cangkok hati-nya sehingga diharapkan mencapai berat ideal.

Nah… saudara-saudara seperti yang kita ketahui bersama, metode atau upaya pengumpulan sumbangan melalui “Koin untuk Bilqis” telah dilakukan dan telah berjalan dengan baik. Berdasarkan pengamatan pribadi saya cara-cara seperti ini sangat efektif untuk membantu sesama bilamana ada yang menderita suatu penyakit dimana harus menjalani pengobatan yang biayanya sangat mahal.

Bahkan fenomena pengumpulan “Koin untuk Prita” telah membuktikan sebelumnya bahwa rasa solidaritas bangsa ini sangat solid untuk saling membantu atau tolong menolong. Masih dari pengamatan saya 🙂 sebelum metode kampanye pengumpulan “koin” di dunia maya, ada metode atau cara pengumpulan bantuan atau sumbangan masyarakat yang juga banyak dilakukan, yaitu dengan membawa kardus dengan ditempelkan selembar kertas folio atau A4 yang bertuliskan tentang hal apa yang sedang terjadi. Misalnya Tsunami di Aceh, gempa di Padang atau Gempa di Yogya.

Cara yang saya sebutkan diatas biasanya dilakukan oleh Mahasiswa/i dan anak-anak sekolah tingkat Pertama atau Atas. PEMIRSA… pe-e-pe, mi-i-mir, es-a-sa…. 🙂 jadi sehubungan dengan penyakit yang dialami Bilqis dan cara-cara menghimpun dana tadi, saya kemarin melihat beberapa orang sedang membawa kotak kardus yang ditempelkan tulisan bantuan buat Bilqis. Tanpa maksud menuduh, sesaat ada beberapa pertanyaan yang timbul:

  1. Dari Universitas atau Sekolah Tinggi apa mereka, tidak ada logo atau emblem sama sekali di Jaket almamaternya :-)?
  2. Bagaimana mereka mempertanggung jawabkan dana tersebut?
  3. Perda No.8 Tahun 2007 Tentang Ketertiban Umum 🙂 ?

hehe… coba perhatikan baik-baik mungkin anda punya pertanyaan lagi…!!!

Terlepas dari apa yang saya tuliskan diatas, semoga para penghimpun, pengumpul, pemberi dana untuk Bilqis dapat diberikan balasan yang setimpal dari Allah SWT, dan untuk Bilqis semoga Allah memberikan jalan terbaik untukmu dan Keluarga mu. Amin Ya Rabbal Al’amin.

Wasalam

damy

“Badut”

Posted on Updated on

Pondok Gede (lagi) – Badut, siapa yang gak tau badut. Badut itu berbadan gendut, wajah penuh make-up warna putih, dimatanya dikasih lingkaran merah dan hidungnya diletakan busa berbentuk bola, lalu mulut diberi  warna merah melebar agar terlihat tertawa terus, terakhir diberi rambut warna-warni…!!! ya itu dia karakter badut kebanyakan yang kita lihat. Badut konon sudah ada atau cikal bakalnya sejak zaman Yunani kuno,  namun kalo ada mau tau banyak lagi tentang badut silahkan lihat di blog tetangga http://kamissore.blogspot.com/2009/05/sejarah-badut.html.

Sejak kecil setiap orang pada umumnya sudah mengenal badut, dan setiap anak kecil mempunyai ekspresi  yang berbeda-beda, ada yang takut dan ada yang berani terhadap badut. mmm… kenapa bisa begitu ya…? padahal badut suatu profesi yang bekerja untuk menghibur orang lain, tapi ketika badut hadir atau dalam bekerja dia membuat takut orang atau anak-anak… apa perasaan badut?

Begini, setiap orang melakukan sesuatu pasti ada tujuannya, selain faktor ekonomi atau mencari nafkah, ada lagi yang lainnya. Seperti kepuasan jiwa, misalnya betapa bangganya seorang “Guru” jika muridnya bisa membuat prestasi, betapa puasnya seorang “Insinyur” ketika membuat jembatan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, begitu juga “Badut” betapa senangnya apabila berhasil membuat orang tertawa.

Pertanyaannya… apakah “Badut” saat ini seperti itu, di saat usia bumi yang mulai tua ini, dimana manusia-manusia tidak lagi berbuat dengan pertanyaan awal, “apa yang saya bisa lalukan untuk anda?” tapi, “apa yang saya dapatkan dari anda?” kalau dinegara kita “tercinta” ini, yang dikatakan “oknum-oknum” itu lah… gambaran jelasnya :-).

Tapi  terlepas dari itu semua, siang tadi ketika saya sedang menuju “taman puring” bersama istri saya, kita berdua tertawa dan merasa terhibur melihat “Badut” bahkan “Badut” tersebut belum melakukan atraksi apapun… hahaha.

Terus bekerja “Badut”, dan jadilah badut sejati yang selalu menghibur umat manusia di negri ini. Bagi yang bukan “badut” harap berbuat sesuai amanat yang dipercayakan kepada kamu… dan gak usahlah menjadi “BADUT”.

Wasalam,

-D4my-