Month: January 2010

Posted on

Advertisements

detikcom : Investasi Tambang US$ 10 M Batal Masuk RI Gara-gara Hukum

Posted on

title : Investasi Tambang US$ 10 M Batal Masuk RI Gara-gara Hukum
summary : Tidak adanya kepastian hukum di sektor pertambangan telah menyebabkan investasi sebesar US$ 10 miliar yang akan masuk ke Indonesia menjadi tertunda.

Pasar Malam

Posted on Updated on

Pasar Malam Tampak dari luar Pondok Gede – Hiburan malam di kota seperti Jakarta sangat beraneka ragam, mulai dari hiburan pinggir jalan dengan modal Rp.10.000 s/d Rp.50.000 sampai di ruangan VVIP yang harganya bisa buat belanja bulanan saya… hehe!!!. Nah kali ini saya akan melaporkan hasil kunjungan saya ke tempat hiburan malam yaitu “Pasar Malam” di Pondok Gede, Bekasi.

Pasar Malam mungkin tidak asing lagi bagi orang-orang yang eksis pada tahun 70-80 an, saya sendiri yang besar di tahun 90-an seingat saya, saya pernah beberapa kali ke “Pasar Malam” tapi kapan dan dimana saya lupa :-). Selanjutnya saya hanya mengetahui dari cerita orang-orang tua saya saja, nah tadi malam tepatnya malam minggu saya, istri saya, kakak saya beserta keponakan-keponakan saya berkunjung kesana. Awalnya saya tidak terlalu tertarik, tapi kayaknya untuk sekedar lihat-lihat asik juga… :p.

Begitu sampai di depan lokasi, kita langsung memarkirkan motor. Lalu tanpa membuang banyak waktu saya langsung mengambil gambar dari depan. “huh.. becek, gak jadi ah” kata seorang pengunjung, tapi hiruk pikuk orang keluar dan masuk pun membuat kami penasaran, seperti apa ya suasanannya. Kami coba masuk sambil celingak-celinguk, hehe… benar-benar becek (untung gak ada cinta laura), tapi sepertinya kondisi tersebut tidak terlalu menjadi halangan bagi para pengunjung.

Di dalam “Pasar Malam” yang menjadi daya tarik utamanya adalah terdapat berbagai jenis permainan, jadi walaupun disebut “Pasar  Malam” sebenarnya yang mempunyai hajat atau yang menjadi event organizer-nya adalah si pemilik permainan bukan para penjual atau pedagang. Hal ini saya ketahui dari obrolan singkat saya bersama andre (yang gayanya mirip alam penyanyi mbah dukun) :-), andre adalah salah seorang pekerja di permainan “Gelombang” saat saya sedang asik mengambil gambar di situ, andre mengajak saya bicara, “dari mana mas” tanya andre. “Gak dari mana-mana, saya cuma iseng-iseng aja”, jawab saya. Dari obrolan singkat dengan andre, ternyata permainan-permainan ini tergabung dalam sebuah grup. “Emma Grup” adalah grup permainan dimana andre bergabung saat ini. Masih cerita dari andre, bahwa kebanyakan grup seperti ini berasal dari daerah cirebon sementara hiburannya (red-musiknya) dari tempat yang berbeda (???).

Yak… setelah tempat duduk penuh, permainan Gelombang pun segera dimulai, dengan dipandu seseorang crew yang berbicara dengan seperangkat alat sound system, komunikasi antara pemain dengan crew pun terlihat seperti layaknya permainan Kora-kora di Dunia Fantasi, “Sudah siap…”, crew bertanya, “sudah…” jawab para pemain, dengan diiringi musik jenis House dangdut permainan dimulai, empat orang pemuda (yang salah satunya andre) memutar bangku kayu yang telah diduduki para pemain… Seru para pemutar sekali-kali melakukan gerakan akrobat dengan berputar-putar di tiang besi penyangga luar… !!!

Di Pasar Malam yang saya kunjungi ada beberapa permainan seperti Kuda-kudaan yang berputa, Kincir Angin, Kereta. Namun yang terlihat pada malam itu permainan gelombang sepertinya menjadi permainan yang paling favorit. Seperti layaknya di Dunia Fantasi atau di tempat rekreasi pada umumnya, di Pasar Malam juga ada beberapa permainan ketangkasan, diantaranya lempar gelang dan tebak angka. Nah kerena permainan ketangkasan itu saya punya cerita menarik…hehe. Begini… waktu saya sedang berputar-putar di dalam mengikuti naluri jeprat-jepret saya, saya melihat sekerumunan orang sedang mengerumuni sesuatu, karena saya penasaran saya datangi, siapa tau aja ada momen bagus buat di jepret. Ternyata ada permainan ketangkasan layaknya Timezone atu Funland yang biasanya berhadiah boneka, jam, permen atau lainnya, nah untuk permainan “gelang”… tunggu-tunggu, sebenarnya permainan gelang bukan nama sebenarnya, saya menamakan gelang karena permainannya menggunakan gelang-gelang dari rotan (sepertinya).

Gelang tersebut dilempar oleh pemain yang telah membayar tiket untuk setiap gelangnya, gelang tersebut dilempar kearah meja panjang yang telah disusun beberapa bungkus rokok dan sabun batangan, siapa yang dapat membuat rokok atau sabun ditengah-tengah gelang rotan maka pemain berhak mendapatkannya. Setelah saya perhatikan permaian tersebut… “jepret” kamera saya melepaskan flash ke arah meja permainan tersebut. Ups… “bandar” atau si empunya permainan terlihat kaget menoleh kearah saya, perasaan saya pun tidak enak karena itu. Ah saya pikir sudahlah, saya bergegas pergi kembali ke permainan gelombang.

Sementara saya asik memperhatikan keponakan-keponakan saya sedang menonton permainan gelombang dan foto-foto, punggung saya di tepuk dari belakang. “ikut saya sebentar” kata seorang bapak-bapak, ternyata bapak itu adalah bandar permainan gelang tadi, wah pikir saya pasti dia ketakutan soal saya ambil foto tadi. “kamu dari mana, ngapain foto-foto saya tadi” kata Pak bandar :-p. “saya tidak dari mana-mana pak, cuma hoby foto-foto saja” jawab saya sambil tersenyum :-). “ah sudah, bicara saja sama dia” Pak bandar menunjuk seorang pria (dengan gaya bos) yang sedang duduk santai diatas motor.

Ternyata pria yang ditunjuk tersebut mengaku sebagai pimpinan dari Grup Emma, intinya pria itu menegur saya karena mengambil foto tanpa minta izin dia sebelumnya, saya katakan kepada dia saya hanya buat hoby saja, bukan dari media cetak maupun elektronik. “saya sama saja pak seperti orang-orang lain yang foto pake handphone” kata saya. Tapi ternyata dia tetap saja tidak terima (atau tidak mengerti) dengan dalih bahwa kamera saya besar 🙂 dan nanti foto-foto saya bisa dijual … hahaha, ujung-ujungnya dia minta saya bayar uang rokok…!!! Hah.. uang rokok, “berapa pak” pancing saya, “lima puluh ribu” katanya, “hahaha… saya tertawa, tidak ada pak kalau segitu” jawab saya. “Ya sudah dua bungkus rokok saja buat anak buah saya” dia menawar. “Ya sudah lah pak, saya tidak usah ambil foto lagi saja” jawab saya sambil berjalan kearah luar. Pikir saya dari pada kamera saya rusak (belom lunas neh) mendingan saya cabut, kebetulan rombongan pun terlihat sudah berjalan menuju ke luar.

Akhirnya kita pulang dengan hiburan yang cukup menyenangkan, dengan membawa kenang-kenangan, satu stel baju buat keponakan saya yang di rumah dan juga dua buah kostum Tim sepak bola Manchaster United (1o – Rooney) dan Real Madrid (8 – Kaka). 

Yup begitulah… jalan-jalan kali ini ke Pasar Malam – Pondok Gede.

– D4my –

Ketoprak

Posted on Updated on

Pondok Gede – Dari jaman dahulu kala, yang namanya “Ketoprak” adalah salah satu makanan kesukaan saya. Mmm… biasanya “Ketoprak” saya makan buat sarapan pagi khususnya hari minggu, karena waktu jaman masih sekolah (SMP/SMA) hari minggu adalah waktunya sarapan dirumah dengan bebas. Namun seiring berkembangnya pengalaman saya tentang makanan di Indonesia, khususnya yang tersedia di Jakarta, saya menemukan 2 (dua) jenis “Ketoprak”.

Saya akan coba memberi gambaran melalui pengalaman (red-Makan) saya tersebut.

Ketoprak jenis 1, ketoprak ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Gerobaknya seperti perahu dengan dua sisi papan yang biasa digunakan menaruh piring.
  2. Biasanya ketoprak jenis ini beredar di pagi hari.
  3. Daerah asal (kebanyakan yang saya tau dari Tegal – sumber tidak dapat dipercaya)

Ketoprak jenis 2, ketoprak yang satu ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Gerobaknya lebih besar dan bentuknya seperti gerobak siomay menggunakan material kaca namun ukurannya lebih besar.
  2. Ketoprak jenis 2 ini banyak ditemukan di malam hari.
  3. Daerah asal cirebon (soalnya di gerobaknya ada tulisan Cirebon 🙂 )

Joni, mas-mas yang satu ini adalah tukang “Ketoprak” langganan saya di daerah rumah Pondok bambu, Joni jualan “Ketoprak” cukup lama juga, dari saya masih duduk di bangku SMP kira-kira tahun 1997 sampa saat ini. Hebatnya, Joni selalu menjaga langganan setianya, khususnya warga yang tinggal di Komplek perumahan saya, dengan memberikan harga yang lebih murah dari yang lainnya. Namun kira-kira beberapa tahun belakangan ini Joni selalu datang terlambat ke daerahkomplek rumah saya, jadi waktu sarapan pun sudah lewat Joni baru  datang begitu waktu makan siang. Usut punya usut ternyata Joni  di pagi hari selalu mangkal di pangkalan Bajaj yang ada di belakang rumah saya, wajar saja saat ini warga komplek yang notabene langganan Joni makin lama makin sedikit yang kelihatan (a.k.a pindah rumah).

Kita tinggalkan cerita Joni, selanjutnya pengalaman makan ketoprak saya yang berikutnya. Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya sedang memadu hati (halah…!!!)  dengan wanita idaman saya, ternyata wanita tersebut mempunyai selera yang sama dengan saya “Makan Ketoprak”. Jadi pada suatu malam tepatnya saat pulang kantor, kita berdua sudah merasakan lapar yang significan (asik gak tuh bahasanya) . Trus dengan “Gentle” saya nanya ke wanita cantik itu, “mau makan apa sayang” kata saya penuh percaya diri.. hihihi padahal modal di dompet gak seberapa. “mmm… apa ya, kalo sayang maunya apa” dia balik nanya. ??? wah dari pada main tanya-tanyaan terus bisa bahaya neh perut, bisa-bisa cacing-cacing di perut saya pada menggunakan hak angketnya karena saya tidak mengambil kebijakan dengan tepat, (efek dari century neh). Saya berfikir sambil memegang perut (coba peragain sendiri) ya… saya tanya lebih spesifik aja “mmm, gimana kalo makan Ketoprak aja, suka gak?” tanya saya lagi. “suka, ada tuh yang enak, langganan saya di belakang Chase Plaza” si cantik menjawab dengan wajah lapernya… hehe (maaf sayang). Singkatnya atau pendeknya atau ringkasnya atau panjangnya-lah, sampailah saya dan si cantik di tempat jualan ketoprak itu. Wow, SEMPURN (tanpa huruf a) karena kata orang tak ada yang SEMPURNA di dunia ini. Ketoprak yang saya makan ini adalah dari Jenis 2 dengan ciri-ciri seperti yang saya gambarkan diatas, yang membuat saya suka ketoprak ini adalah, menggunakan lontong dimana lebih lembut dibanding ketupat (menggunakan daun kelapa atau plastik), dan kacang yang dia gunakan pas rasanya tidak pahit. Jadi Ketoprak ini menjadi salah satu menu makan malam kami pada malam-malam selanjutnya(lumayan agak irit) hahaha.

Saat ini setelah kita tinggal satu rumah (alias sudah menikah), kita hampir tidak pernah makan ketoprak di sana lagi (belakang Chase Plaza), ya saya kira sang tukang ketoprak juga akan mengerti, soalnya sebelum menikah saat istri saya beli untuk yang terakhir kalinya bisa-bisanya dia pamitan (hihi) sangking nge-fans sama tuh ketoprak dia sampe ngasih tau  sama tukang ketoprak-nya kalo kta bakalan jarang beli ketoprak lagi soalnya mau menikah.. 🙂

Nah, setelah itu kita menemukan “Ketoprak” baru lagi yang masuk kategori jenis 2, sebenarnya tuh ketoprak dah lama kita liat, posisinya gak jauh dari rumah yang sekarang (red- Pondok gede). Lumayan enak…. tapi sayangnya pake ketupat jadi agak keras gitu. Tapi akhirnya kita menemukan “Ketoprak Sejati” kali ini bener-bener EMPURNA (tetep gak ada yang sempurna) pake lontong, bumbu kacangnya pas, kerupuknya enak, mmm… pokonya bagi pecinta Ketoprak, Ketoprak jenis 2 yang satu ini layak untuk dicoba. Posisinya kalo dari arah cililitan ke Halim pas disepanjang Jl. Squardon sebelum masuk ke Komplek Halim Perdana Kusuma sebelah kiri (Jakarta Timur). Bukanya sesudah Adzan Maghrib, ada meja dan kursi cukup buat empat sampai enam orang, parkir motornya juga asik gak di pinggir jalan banget.

Ok, segitu dulu cerita soal Makanan Ketopraknya. See u.

D4my

“Rambutan – it’s so much fun”

Posted on

Setiap berkunjung ke Bogor atau lebih tepatnya Ciawi, tempat mertua pasti hal yang gak pernah terlewat adalah melihat tanaman-tanaman di halaman depan rumah. Halaman rumah berikut teras di sana penuh dengan tanaman, dari tanaman hias sampai buah-buahan. Emang untuk hoby yang satu ini mertua gw kayaknya gak becanda atau maen. Setiap gw dateng itu tanaman hias…. ck..ck..ck   hijau mengkilat semua daunya terus gede-gede dan seger-seger. Semua tanaman hiasnya tersusun rapih di berbagai macam model pot.

Tapi pada hari itu, tepatnya tanggal 4 January kemarin mata gw tertuju pada pohon rambutan yang ada di sebelah kiri rumah. Wow…. warna merah menarik muncul dari dominasi hijau dedaunan pohon rambutan itu. Tanpa panjang lebar, namun diawali mukadimah dengan mertua perlahan langkah gw menuju pohon itu. Biar tambah asik gw ajak penggila rambutan yang mana adalah istri gw 🙂 , “sayang ambilin dong yang diatas, yang merah-merah” kata istri gw. Hah… dia kira gw mau ngambil yang masih hijau apa. “Iya sayang, gw juga mau ambil yang itu” gw berlagak baik, hehe….!!!

Setelah mencicip rambutan tadi, Mrs.mertua datengin gw yang masih sama istri gw di sekitar pohon rambutan, “Enak nih rambutannya, campuran rambutan aceh sama rapiah” kata Mrs.mertua sama kita. Hmm… rambutan Rapiah campur rambutan Aceh, masa iya sih.. kalo rambutan rapiah yang gw tau buahnya “cepak” tapi yang ini kok nggak.

Tuh liat aja, jelas kan ini mah bukan rambutan rapiah. Masa rambutnya gondrong dibilang rapiah. Tapi istri gw gak ambil pusing mau Rapiah kek…, Aceh kek… asal enak, manis dan ngelotok udah cukup sempurna alasan untuk makan rambutan. Liat aja difoto kiri, dia masih metik aja tuh… hehehe luv u sayang.

“sayang-sayang liat nih, bener kata nyokap ini pohon campuran” teriak istri gw. Wah bener juga nih.. hihi, liat aja setengah gondrong dan setengahnya lagi botak. Wah asik juga nih pohon rambutan, pantes aja manisnya kayak Rapiah, ukurannya gede kaya Rambutan Aceh.

Kayaknya bagus juga nih di ambil bibitnya.. buat dirumah sayang……

hehe…

Wasalam